HELLO :)
Aku pernah bermimpi
menjadi bintang yang paling bersinar dihatimu
Aku pernah bermimpi
menjadi bulan yang siap menerangi malam malam mu
Malam ini tidak
seperti malam sebelumnya, malam ini aku hanya terduduk diam di pendopo rumah
memandangi bunga mawar yang eyang tanam. Kini bunga mawar itu sudah tidak akan
ada lagi yang mengurus, bunga mawar itu tidak akan ada lagi yang akan
merapihkannya. Kini eyang sudah tiada hanya sisa kenangan yang terindah untuk
eyang, dan kini hanya sisa aku dengan rumah pendopo besar disini.
Keseokan harinya aku
bersiap untuk sekolah, seperti biasa sebelum
sekolah aku harus membersihkan seluruh bagian rumah setelah itu baru aku
berangkat ke sekolah, aneh rasanya bila aku harus membersihkan semuanya
sendirian tapi aku harus kuat mengerjakannya.
Hari ini jogjakarta
tidak seperti jogja yang sebelumnya terasa sangat dingin kali ini membuatku
agak malas kesekolah, tapi hari ini ada pelajaran yang tidak dapat aku tinggal
yaitu biologi karena hari ini aku harus praktek. Sampai didepan gerbang sekolah
aku mengikat rambutku. “buljo.. buljo” seketika itu seseorang memanggil aku dan
aku melihat sesorang berlari dengan sangat kencang nya dan mengambil jedai ku.
“ioooo... sumpah
balikin ngak lucu” teriakku sambil mengejar io kedalam kelas, sementara aku
mengerjarnya aku merasa anak-anak melihat ulah dan tingkah kami berdua.
“iooo.. sumpah
balikin ini udah di kelas ngak lucu kamu ah !!” ucapku kesal
“kamu kenapa sih di
kuncir rambut kamu itu bagus liat apa curlynya buat kamu makin cantik kenapa
harus malu” jawabnya
“aku malu io kamu
tau kan disekolah kita banyak anak-anak dan kakak kelas yang cantik-cantik
bedaa sama aku lah pokoknya” ucap ku sambil menguncir rambutku dan duduk di
kelas
Saking asiknya aku
berbincang Ibu diana masuk kelas, ibu diana adalah walikelas kami sekaligus
guru biologi kami yang sekarang sedang sibuk mengabsesn kami satu per satu.
“Rebbeca Magdalena Jones” ucap bu diana “hadir bu” balas ku. “Zio jonathan
Smith” hadir bu
Ya itulah nama ku
dan zio. Aku dan Zio telah bersahabat dari kami masih sangat kecil aku kenal
zio saat aku dan dia menjadi seorang tetangga dan sampai sekarang kami
bersahabat, dari SD kami sudah biasa bersama.
“baiklah sekarang
ibu akan membagikan kelompok untuk kalian praktek dua minggu kedepan” ucap ibu
diana sambil sibuk menuliskan nama-nama kelompok di papan tulis.
“dan untuk rebbeca
dan zio kalian ikut ibu dulu ya ada yang harus ibu bicarakan dengan kalian”
ucap ibu diana di ikuti anak-anak yang sibuk dengan jas lab dan segera bergegas
masuk keruang lab sementara aku dan zio mengikuti bu diana masuk keruang kepala
sekolah.
“zio dan becca pasti
kalian bingung madam menyuruh kalian kesini, jadi ibu ingin kalian untuk
menjadi murid percontohan di sekolah ini karena sekolah kita akan menjadi
sekolah percontohan pertama yang akan menerima Army Lisency jadi sekolah kita
akan dibuat semacam sekolah militer dan ibu disuruh oleh komandan untuk mencari
dua anak yang bersedia bergabung dengan mereka sebagai contoh dan nanti akan
dilatih apabila kalian senang dan ingin ikut bergabung kalian akan diangkat
sebagai bagian dari pasukannya. Bagaimana ? apakah kalian bersedia ?” ucap
madam wati
“hemm, ibu kalo buat
itu kami harus bicarakan kepada orang tua kami dulu” ucap zio
“baiklah ibu tunggu
kabarnya nanti” ucap madam wati
“satu hal lagi, hari
kalian akan saya pindahkan ke ruang isolasi karena kalian adalah siswa dan
siswi terpintar disini jadi ibu akan memindahkan kalian ke ruang isolasi
sehingga kalian bisa lebih serius belajar dan kalian akan menerima
materi-materi yang jauh lebih cepat dan tentunya tugas-tugas yang lebih banyak”
ucap madam
“iya madam,
terimakasih” ucap ku dan zio
Jujur aku tidak akan
menyangka mendapatkan ini semua dari dulu aku sangat ingin menjadi siswa
isolasi, walaupun berat tapi aku sangat senang menjalaninya.
“ini baju lab kalian
isinya ada jaslabnya juga, ini kartu identitas kalian dan ini kartu untuk membuka
pintunya, dan semua perlenkapan untuk kalian berdua ATK dan segala macemnya
sudah ada di dalam box di meja kalian berdua, dan juga jadwal kalian sudah di
tempel di tempat masing-masing dan kalian juga punya kamar mandi sendiri” jelas
bu diana
“terimakasih bu buat
semuanya” ucap kami berdua
“sama-sama nak ibu
bangga sama kalian, oke sekarang ganti baju kalian siap siap kalian ada praktek
pertama kali dikelas yang baru” ucap bu diana
Apa yang selama ini
yang kami harapkan dan impi impikan akhirnya menjadi kenyataan hal yang mungkin
semua orang merasa bodoh untuk anak seumuran kami menjadi murid isolasi itu
sangat tidak waras, karena tidak akan ada waktu untuk bermain. Tapi aku merasa
sangat-sangat senang aku dan io merasa sangat-sangat bahagia menerima ini.
Kami menjalani
semuanya dengan santai hari-hari terus berganti dan rasanya sangat nyaman kami
untuk menjalaninya.Termaksud kami adalah sekrang anak Army lisency dengan
bangga kami menjalaninya karena kami dapat mengetahui tentang sesuatu yang
tidak kami tau sebelumnya kami diajarkan bagaimana cari kami menjaga diri
sendiri, bagaimana cara kami memegang senjata dan memakainya semua kami
pelajari.
Dan dengan itu
hubungan aku dan io juga semakin dekat dia berhasil merubahku untuk menjadi
orang yang lebih percaya diri lagi, dia yang berhasil membuatku berhasil
membuka ikat rambutku yang seketika aku menjadi perbincangan kakak kakak kelas
Hari itu Hujan turun
dengan sangat derasnya aku duduk sendirian di lorong sekolah menuggu zio yang
sedang mengambil mobilnya di parkiran seketika itu aku merasakan sebuah peluru
berhasil menembus bagian perutku aku melihat darah segar keluar dari perutku,
dan seketika itu aku terkapar di lorong sekolah.
“mbul, sumpah nggak
lucu ini siapa yang ngelakuin mbul kamu bangun dong becca bangun” ucap zio
dengan panik. Dan seketika itu juga Zio merasakan peluru menembus perutnya
juga, entah hari itu siapa yang berhasil membawa kami ke rumah sakit karena
disaat itu keadaan sekolah sangat sepi.
Pada saat itu dokter
berhasil mengeluarkan peluru dari dalam tubuh kami dan dokter menyatakan kalau
kami koma. 5 jam kemudian dokter menyatakan kalau kami telah berhasil melewati
masa kritis kami dan berhasil lewat dari koma. Sesaat kami sadar aku hanya
berusaha melihat tangan kami yang berbalut dengan infus dan badan yang rasanya
sakit semua, aku berusaha bangun dari tempat tidurku dan melihat kesebelah ku
itu adalah zio.
“zio zio bangun
zio”panggilku dan seketika itu zio bangun dari tempat tidurnya.
“kok kita bisa
disini yak ? siapa yang bawa kita kesini?” ucap ku
“nggak tau deh orang
waktu aku nolongin kamu aku juga ketembak” ucap zio
Dan pada saat itu
dokter datang untuk memeriksa kami. “kok kalian udah bangun dari tempat tidur ?
kalian harus banyak istirahat “ ucap dokter yang selalu memeriksa kami dia
adalah dokter timy dia adalah dokter pribadi kami.
“dok, luka segini
itu ngak terlalu sakit, yang paling sakit adalah kalau kita kehilangan orang
yang kita cintai” jawaban zio membuat aku tertawa terbahak-bahak.
“dok, kapan bisa
pulang sih udah bosen nih disini” tanya ku
Tiba-tiba seseorang
yang datang membuat kami terkejut karena ibung dan mommy datang. Ibung dan
mommy adalah orang tua angkat kami mereka ada teman sekolahnya bunda dan
mamanya zio. Mereka yang sudah merawat aku dan zio selama aku tinggal di jogja,
termaksud sampai meberiku pekerjaan untuk, dan membiayai semua keperluan kami. Aku
tidak bisa membohongi kepanikan mommy karena mommy memang benar-benar panik
takut kehilangan kami berdua.
Hanya 3 hari kami
berada dirumah sakit lalu kami pulang udara dijogja semakin lama semakin
dingin. Kembalinya aku kesekolah membuat semua anak-anak berbisik pada saat aku
lewat lorong semua anak memperhatikan aku dan zio, tapi aku dan zio
sangat-sangat aku hanya asik bercanda dengan zio. Tiba-tiba aku merasakan
sesorang sengaja membuang bola kearah perutku dengan sangat keras seketika aku
tersungkur memegangi perutku.
“bul, kamu nggak papa
?” ucap zio panik
“selaw.. aku nggak
papa cuman agak sakit aja “ balas tiba-tiba segerombolan kakak kelas datang
mengerumuni kami.
“eh kalian berdua
kalian pikir kalian anak paling perfect apa ? sampe satu sekolah panik cuman
gara-gara kalian di operasi ngak jelas pake acara bilang luka tembaklah apalah
segala macem lebay tau ngak? “ ucap salah satu anak perempuan
“dan kalian berdua
pikir kalian disini paling cakep apa ? pake ambil spotlight disekolah semua
piala kalian yang nyumbang pelajaran anak kelas 3 kalian ambil kalian pikir
kalian siapa ?” mendengarnya aku dan zio hanya bisa tersenyum
“kak, maaf bukannya
mau ambil spotlight atau apalah itu tapi aku dan zio cuman bisa melakukan apa
yang disuruh sama madam” ucapku
“dan kalo emang
kalian merasa aku sama becca ambil spotlightnya kalian berusaha buat ambil
lagi, kita berdua siap buat bertarung” ucap zio dan seketika itu aku dan zio
meninggalkan mereka semua di lorong.
Proses belajar
mengajar kami berjalan seperti biasa sampe akhirnya jam istirahat berbunyi, dan
seketika itu juga aku dan zio dihadang oleh beberapa kakak kelas dan lagi-lagi
mereka menanyakan hal yang sama. “tadi lo bilang apa pagi-pagi kalo elu minta
kita ambil spotlight itu lagi?? Gue tunggu kalian di lapangan sekarang” ucap
salah satu kakak senior yang katanya paling cakep
Tanpa basa basi lagi
aku dan zio mengikuti mereka dan seketika terjadi pertandingan seru antara kami
berdua melawan kakak senior yang otomatis jumlahnya lebih banyak dari pada
kami. Mulai dari basket pertandingan berjalan sangat sengit dan akhirnya kami
berdua berhasil memangkan pertandingan setelah selesai aku dan zio ditantang
untuk memainkan senjata.
Tanpa sengaja aku
langsung berpikir apakah kemarin kak angga yang menembak ku dan zio? Kenapa dia
bisa bawa pistol. Tapi aku berusaha membuang pikiran itu jauh-jauh dan aku
berusaha fokus dengan pertandingan yang tidak di rencanakan dan sampai akhirnya
kami berdua memangkan pertandingan.
“zio, kesini lu”
tiba-tiba kak angga meninju zio sampai darah keluar dari hidungnya
“kak angga maksud
kaka apa sih kalo emang kalian mau ambil semua ketenaran yang kalian banggain
itu ambil aja aku juga ngak butuh kak!! Aku sam zio cuman menjalankan amanat
yang madam suruh karena kalian juga ngak ada yang becus cuman menang keren”
seketika aku merasakan sebuah pistol menghadang di kepala ku dan seketika aku
berhasil mengambil pistol itu dari tangan kak angga
“elu nanya mau gue
apa ? gue cuman mau elu jadi pacar gue tapi elu udah nolak gue demi zio” ucap
kak angga
“iya aku lebih milih
angga dari pada kakak, kakak itu kasar ngak pernah berubah dari dulu, kaka
pikir aku bangga pacaran sama kakak?? Jelas aku bakal lebih milih zio dari pada
kakak.” Ucap ku sambil menahan tangis
“oke kalo itu maunya
elu kalo gue ngak bisa dapetin elu zio juga ngak boleh dapetin elu” dengan
sigap aku langsung menghalangi pukulan kak angga dan tepat mengenai bekas luka
operasi dan luka tembakku. Seketika aku
terkapar tidak sadarkan diri
“becc, pliss bangun
buat zio pliss bangun buat zio jangan tinggalin zio becca bangun zio sayang
sama becca, zio mau becca jadi pacarnya zio becca bangun” . Seketika itu juga
aku segera dilarikan kerumah sakit dan segera mendapatkan penanganan sementara
zio menunggu ku di depan ruang observasi.
Satu jam kemudian
dokter datang menghampiri zio “Zio, becca udah sadar dia mau ketemu sama kamu”
dengan sigap zio berlari menghampiriku
“becca, gimana
keadaan kamu udah ngak sakitkan ?” ucap zio
“zio, becca ngak mau
kehilangan zio, becca juga sayang sama zio” jawabku
Setelah itu zio
mengeluarkan sebuah gelang dari kantongnya dan memasangkannya di tanganku.
“kamu masih nyimpen
gelang ini ?” tanya ku
“aku masih nyimpen
gelang ini karena aku yakin kamu pasti balik lagi sama aku” ucap zio
Seminggu aku berada
dirumah sakit dan aku pun, merasa sehat kembali dan pada saat itu juga ibung
dan mommy mengurus pemindahan aku dan zio kesekolah yang baru, dan memulai
semuanya lagi.
Komentar
Posting Komentar